“Jika ingin mengenal dunia,
membacalah
Jika ingin dikenal dunia, maka
menulislah”
Setelah menulis Untuk apa Membaca Buku, maka perlu saya
tulis Untuk apa kita menulis. Tapi, agar tidak terlalu mainstream maka tulisan
ini saya beri judul Menulis Hanya Membuat Kamu Hebat. Bukan tanpa alasan saya
mengatakan kenapa setiap penulis itu hebat, karena memang penulis itu mampu
menggerakan atau setidaknya mempengaruhi pembaca dengan tulisannya. Inilah yang
ditakuti Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte;
'Aku lebih takut dengan seseorang yang memegang pena
(penulis) dari pada seribu prajurit yang bersenjatakan lengkap"
Kekuatan tulisan mampu merubah dunia
dengan halus, bergerak secara perlahan, hingga puncaknya mengarah pada
perubahan. Selain itu, menulis juga mampu membuat kita menjadi hebat –seperti yang
saya katakan—hebatnya adalah, karena kita membantu mencerahkan pemikiran
masyarakat yang saat ini sedang jumud (suram).
Pun begitu, menulis juga adalah rangka meyebarkan kebaikan.
Coba kita bayangkan, kita menulis
satu artikel yang bermanfaat, dibaca oleh satu orang dan orang ini tergerak oleh
tulisan kita lalu menyebarkannya pada yang lain, dan ternyata orang lain itu
turut menyebarkan tulisan kita, dan seterusya. Berapa banyak kebaikan yang akan
kita dapat? Ah, bisa kita bilang; menulis dapat me-masif-kan kebaikan. Hebat
bukan.
“Pintar dengan
membaca, hebat dengan Menulis”
Setelah kita banyak membaca, tentu anda semakin tahu. Lalu
setelah anda tahu apakah tidak ingin menyebarkan pengetahuan itu? Untuk menjadi
hebat dan bermanfaat tidak cukup dengan hanya membaca, anda juga harus
menuliskannya.
Apa jadinya bila
para ulama itu hanya membaca kitab dan tidak menuliskan gagasannya. Apa jadinya
bila Imam Syafi’i hanya membaca, tentu tidak akan muncul kitab Ar Risalah, apa
jadinya bila Imam Bukhari dan Muslim hanya membaca, tentu kita tidak akan bisa
menikmati wejangan hadisnya. Pun, apa jadinya bila Syaikh Taqiyudin tidak
menulis? Tentu gagasan tentang Khilafah tidak akan sampai pada anda saat ini.
Itulah
mengapa, menulis itu sudah mejadi hal yang sangat biasa bagi para kaum muslim
terdahulu khususnya para ulama yaitu, untuk menyebarkan kebaikan dan mencerdaskan
umat. Ah, saya jadi teringat pesan yang disampaikan sayid Qutb. “Peluru itu”
katanya, “yang biasa digunakan untuk menembak, hanya mampu menembus satu
kepala, sedangkan tulisan mampu menembus ratusan hingga ribuan kepala.” Dahsyat
bukan.
“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak dari
seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. [Imam Al-Ghazali]
Bukan anak raja? Pun, bukan anak seorang ulama? Maka imam
Al-ghazali menyarankan anda untuk menjadi penulis. Bukan tanpa alasan beliau
menyarankan anda untuk menjadi penulis. Selain anak raja dan anak dari seorang
ulama dihormati serta disegani ia juga mudah dikenal. Nah, agar anda juga
demikian maka jadilah penulis. Pun sepertinya, yang didapatkan oleh seorang
penulis ‘lebih’ dari apa yang di dapatkan anak raja dan anak seorang ulama.
"Semua orang akan mati hanya karyanyalah yang
abadi, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti"
[Ali bin Abi Thalib]
Menulis juga merupakan proses menuju
‘keabadian’ si penulis boleh mati tapi tidak dengan karyanya. Nama mereka terus
ada bahkan terus disebut meski mereka telah tiada. Pun, kebaikan mereka yang
tertuang dalam buku-buku itu tetap mengalir hingga akhir. Maka –menurut saya—
merugilah orang yang hanya membaca tapi tidak menulis, ia menyia-nyiakan
kesempatan untuk menyebarluaskan kebaikan dan mencerdaskan umat melalui
tulisannya.
“Iya, menulis hanya akan menjadikanmu hebat.
Jika tidak ingin menjadi orang hebat berhentilah membaca dan tak perlu menulis.”
Sampai disini, apa yang masih membuat
anda tertahan untuk menulis?
Bagikan
Menulis Hanya Membuat Kamu Hebat
4/
5
Oleh
Harun Tsaqif