Ada yang harus pergi, ia adalah masalalu.
Ada yang mesti tinggal, ia penerimaan.
Ada yang mesti tinggal, ia penerimaan.
***
Aku melihatmu murung seharian, dis udut mushalla kecil dekat kampus. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu waktu itu, yang terekam di kepalaku kau adalah perempuan ceria.
Senyummu menularkan semangat untuk oranglain. Namun hari itu, aku tidak melihat lekukan indah dibibirmu. Pun, kurasa kau tidak akan lama disudut mushalla, aku yakin sebentar lagi kau akan beranjak dari tempat itu. Aku membiarkanmu.
Ada yang tidak biasa terjadi padamu, kau masih duduk disudut mushalla tanpa sedikit beranjak. Ransel putih kesayanganmu juga masih rapi disamping kakimu. Ah, aku penasaran. Aku mulai mendekat, meski kutahu tiada lelaki yang berani mendekatimu, tapi naluriku mengatakan kau butuh sesuatu. Jikapun nanti kau mengusirku, aku akan dengan senang hati pergi. Setidaknya aku tahu kau baik-baik saja.
“Ada yang bisa kubantu?”
Kau melihatku dengan wajah datar. Aku berjanji akan segera pergi jika 5 detik lagi kau tidak memberikan jawaban.
Baiklah, sepertinya aku harus membiarkmu sendirian.
“apa kau punya sesuatu yang telah hilang?”
Aku membalikkan badan,
“iya, ada.”
“bagaimana caramu melupakannya?”
“dengan penerimaan”
“dengan penerimaan”
Kau terdiam. Aku hanya berdiri menyaksikanmu merapal kenangan.
“adakalanya kau harus menerima sesuatu itu pergi, meski itu pahit ia akan mengajarkanmu ketegaran.”
Keringat dinginku sudah mulai keluar, aku sudah tidak bisa lama-lama lagi berdiri memandangimu. Aku pergi.
Bagikan
Penerimaan
4/
5
Oleh
Harun Tsaqif