Pandangan itu terlintas, seperti kedua magnet yang
saling beradu. Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kekata. Rasa yang
tiba – tiba mengalir deras dalam hati, mungkinkah ini cinta pada pandangan
pertama.
“Astagfirullah..” adam mengalihkan pandangannya.
Kembali ia berjalan menyusuri indahnya kota jakarta.
Namun, hatinya terus meminta untuk memberatkan kaki agar tidak segera beranjak
dari tempatnya berdiri. Pelan, ia menolehkan kepalanya ke alakang, melihat
kembali wanita bercadar yang baru saja ia lihat.
Tak di duga, kedua mata itu saling beradu kembali.
Wanita bercadar itu juga menoleh ketempat berdirinya adam. Malu, keduanya
segera pergi meninggalkan tempat itu.
***
“Assalamu’alaikum... ibu..” adam kembali mengetuk
pintu rumah.
“Duh.. ibu kemana ya, ko pintunya terbuka” segera
adam masuk kedalam rumah kecilnya itu, menemui ibu tercinta setelah di tinggal
studi akhirnya di luar kota.
Disusurinya
semua isi rumah, namun ibunya tetap tidak ada. “Duh.. ibu kemana sih..” adam cemas memikirkan sang ibu, karena memang
hanya ibulah yang ia miliki saat ini, terlebih ayahnya sudah meninggal sebulan
yang lalu karena menderita stroke.
Terus
saja khawatir, adam duduk dibangku berwarna cokelat tepat di teras rumahnya. Ia
sandarkan bahu yang telah lelah itu sembari membentangkan kakinya yang juga letih
karena perjalanan jauh. Ia menunggu sang ibu dengan rasa rindu yang sudah
berbulan-bulan dipendamnya, cukup berat meninggalkan ibunya sendiri lantaran
harus melanjutkan studi akhirnya, namun itu semua demi ibu yang selalu
mendukungnya.
Rerindang
pohon yang lebat serta angin yang bertiup pelan, membuat suasana semakin nyaman
untuk merebahkan badan sesaat. Adam tertidur pulas. Tanpa terasa, menit demi
menit telah meninggalkannya. Wajah yang tampak telah lelah itu membuat iba sang
ibu untuk membangunkannya.
Sang
ibu baru saja pulang setelah menghadiri pengajian yang di adakan dirumah
tetangga, setelah melihat anaknya yang baru saja pulang dan tertidur pulas
dibangku, tak tega rasanya membangunkan anak semata wayangnya itu. Ia pandangi
wajah anaknya, yang telah berjuang menafkahi ibu yang kini hanya sendiri.
Tangan sang ibu kini begitu lembut menyentuh
pipi anaknya, menyapu rambut sang anak dengan sentuhan kasih sayang.
Menyadari
bahwa ibunya sedang membelai lembut pipinya, tangan adam pun langsung mengegam
tangan lembut sang ibu, yang telah membesarkannya selama ini dan membimbingnya
hingga menjadi anak yang baik.
Ia ciumi tangan sang ibu, lalu memeluknya dengan
hangat.
“ibu.. ibu kemana aja, aku cari dalam rumah ngga
ada, pintunya kebuka lagi.. ibu abis dari mana?” tanya adam khawatir.
“ibu habis menghadiri pengajian dam..” sahut sang
ibu sembari membelai pipi anaknya itu. ”kamu kok ngga ngabari ibu dulu kalo mau
pulang, kan ibu bisa nungguin kamu dulu?” “hehe..” tawa adam merekah “abis
kangen bu..” lanjutnya.
Adam
adalah sosok lelaki pejuang, pekerja keras dan sangat rajin membantu orang tua,
ia juga sangat di segani oleh teman – temannya karena kepintarannya dalam
menyelesaikan masalah. Namun, saat dekat sang ibu ia menjadi anak yang sedikit
manja.
“kamu ini..”
tangan sang ibu mencubit pipi anaknya “yasudah kamu masuk dulu sana, mandi,
ganti pakaian mu sebentar lagi mau ashar, ibu siapkan dulu makanan buat kamu”
“duh... ibu tau aja kalo anaknya laper, hehe..
yaudah aku masuk dulu ya bu” tinggal adam sembari mendaratkan kecupan di dahi
sang ibu tercinta.
***
“aku belum mau menikah bi..” syifa menjawab pertanyaan abi
nya lembut.
“tapi nak.. umur mu sudah cukup untuk menikah, abi mu ini ingin segera menggendong
cucu, ya kan mi? Tanya sang ayah pada
istri.
“iya.. umi ingin rumah ini ramai, di isi dengan
anak – anak kecil yang lucu”
“tapi umi”
syifa berkilah. “aku belum menukan pasangan yang cocok untuk di jadikan suami”
orang
tua syifa terdiam sejenak, mereka berdua saling memandang mendengar jawaban
putri semata wayangnya itu.
“begini saja..” suara sang ibu memecah kesunyian “nanti
biar umi carikan suami untuk mu, bagaimana?”
syifa terdiam seribu bahasa, apa ini masih di zaman
siti nurbaya yang serat dengan perjodohan? gumamnya dalam hati. Tapi, ia meyakini
bahwa pilihan orang tua adalah yang terbaik.
“Baiklah umi..
seterah umi saja, syifa ikut” jawab
syifa dengan seyuman manisnya.
“alhamdulillah..” sahut orantua syifa. Akhirnya putri semata
wayangnya mau menikah juga setelah dibujuk sekian lama.
“kalo begitu, secepatnya akan umi carikan, ya kan, bi?”
“iya.. tapi
kamu harus janji lho nak jangan kamu tolak pilihan orang tua”
“iya bi..
insya Allah jika memang jodoh, syifa akan menerimanya dengan ikhlas..”
“yasudah kalo
begitu, umi dan abi ingin pergi keluar dulu, tolong nanti kalo ada yang cari
bilang abi sedang keluar sebentar”
pesan sang ayah.
“iya bii...”
sahut syifa yang dari tadi duduk disofa.
Syifa
segera mengambil al – qur’an yang ada didepannya untuk menghilangkan sepi rumah.
Namun, fikirannya menerawang jauh mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
Berpapasan dengan lelaki yang belum ia kenal. Syifa tersenyum geli jika
mengingat tingkah lelaki yang belum dikenalnya itu, wajahnya bersih dan
jenggotnya yang cukup lebat menambah kelucuan lelaki itu.
“astagfirullah.. “ syifa menggelengkan kepala. “Ya
rabb.. lindungi aku dari godaan syaitan yang terkutuk” pintanya dalam hati.
***
Suasana
malam yang indah, ba’da isya yang tidak biasa karena malam ini bisa berada di rumah sederhana bersama ibu tercinta. Suasana yang
sudah berbulan tidak dirasakan kini kembali hadir menyelimuti dirinya. Duduk
dibangku coklat di depan teras rumah, adam membaca al-qur’an dengan suara
indahnya. Melantunkan ayat demi ayat, meresapinnya hingga masuk ke relung jiwa.
Al – qur’anlah yang selama ini menemai dirinya saat jauh dari sang ibu dan saat
ayah tidak ada lagi disampingnya.
“dam..” sahut sang ibu sembari duduk disamping adam.
Adam mengakhiri bacaan qur’annya dengan cepat. “kamu tahukan” lanjut sang ibu. “kalo
saat ini ibu sendirian dirumah kita ini, apalagi saat kamu harus selesaikan
studi akhir kamu diluar kota, sepii... banget rasanya, ibu pengen kamu cepat
menikah dam..” pinta sang ibu pada anak kesayangannya.
Permintaan
sang ibu, mengoyak hatinya. Ia tahu kalau ibu yang sangat di cintainya ini
sangat kesepian, terlebih setelah di tinggal mendiang sang ayah. Ia tak tega
bila sang ibu yang di cintainya merasa sendiri.
Adam
terdiam sejenak, memikiran jawaban yang pas agar dapat diterima ibunya. Ia
memutar otak untuk dapat membuat ibunya senang mendengar jawabannya ini...
“ibu..” jawab adam lembut. “ibu kan tahu kalo aku
sedang menempuh studi akhir, sebentar lagi aku lulus bu..” lanjutnya sembari meyakinkan
sang ibu.
Wajah
sang ibu kini berubah menjadi kecewa mendengar jawaban sang anak yang tidak
sesuai dengan keinginannya.
“Jadi kamu
ngga mau nurutin kata ibu, apa kamu ngga mau nikah? Ibu kesepian dam.. ibu
butuh temen untuk menemani ibu.. seengganya kalo seandainya ibu meninggal kamu
sudah punya istri dan ada yang ngurusin kamu.”
“ssst... ibu ngomong apasih..” timpal adam. “ko pake
bawa-bawa meninggal”
“ya abis kamu
ngga mau nikah”
“bukan ngga
mau nikah bu.. tapi adam mau nyeselain studi adam dulu”
“yasudah..
seterah kamu saja..”
kini sang ibu beranjak dari tempat duduknya,
meninggalkan adam sendiri diteras rumah dengan wajah yang murung.
Melihat
wajah ibunya yang sedih, adam tak tega. Belum sempat sang ibu masuk kedalam
rumah adam memegang lembut tangan ibu tercinta.
“iya, yasudah.. adam mau nikah..”
Mendengar jawaban sang anak wajahnya kembali ceria.
“bener?” tanya ibu meyakinkan.
“iya..”
“kapan..?”
sela sang ibu.
“iya.. nanti
bu..”
“iya.. tapi
kapan?”
“secepatnya..”
“emang kamu
sudah ada calonnya?”
adam sedikit menggelengkan kepalanya. “belum bu..
tapi tadi siang saat turun dari angkot, adam ketemu dengan wanita bercadar bu,
hijabnya lebar dan panjang”
“terus?” timpal sang ibu.
“matanya agak kecokelatan”
“kamu tanya
siapa namanya?” tanya sang ibu dengan wajah serius.
Adam kembali
menggelengkan kepalanya.
“aku malu,
orang cuma berpapasan aja.”
Kembali
adam teringat dengan kejadian tadi siang, wanita berhijab lebar dan bercadar
itu sepertinya telah merebut hati adam dari tempatnya. Senyum adam melebar bila
ingat kejadian itu.
“huss.. senyum-senyum sendiri” tangan sang ibu
menyapu wajah adam. “iya sudah, ibu doakan semoga wanita yang tadi siang
berpapasan dengan kamu itu menjadi istrimu”
“aamiin”
jawab adam.
***
Pagi
yang cerah, burung – burung saling bersautan menyambut mentari yang mulai menampkan wajahnya. Suasana pagi hari khas
pedesaan ada ditempat adam dan ibunya tinggal. Sejuk, itulah yang dirasakan
adam. Akhirnya ia dapat kembali menikmati pagi dijakarta.
“dam..” sapa sang ibu tercinta.
“kamu mau pergi kemana lagi?”
“aku mau ke toko buku dulu bu.. ada beberapa yang
ingin aku beli untuk tugas studi ku..” jawab adam sembari mengemas tas gemblok warna hitamnya.
“aku berangkat ya bu..” tinggal adam sembari mencium
tangan, dan tak lupa kening ibunya. “assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam.. hati – hati...”
***
Tak
biasanya syifa ingin pergi mengikuti kajian pagi hari ini. Ia mulai mengemas
keperluannya seperti buku dan pulpen untuk mencatat apa saja yang disampaikan
oleh Ustadz Reza Basalamah, ustadz idamannya. Syifa sangat menyukai pembahasan – pembahasan yang
disampaikan oleh ustadz idamannya itu. Kadang lucu, dan kadang juga serius. Penjelasannya
padat dan ringkas memebuat semua orang muda mengerti perkataannya. Itulah
mengapa syifa sangat menyukai ustadz ini.
“Syifa.. kamu berangkat kajian sama siapa?” tanya
sang ayah.
“Sendiri bi..
temen – temen ku pada ngga bisa.”
“yasudah naik motor abi saja ya.. abi ngga
bisa ngaterin kamu hari ini, ada temen abi
mau datang dari sumatera, ngga enak kalo dia sudah sampai sini abi ngga ada”
sang ayah mulai memberikan kunci motornya.
“ini.. hati-hati bawanya”
“ngga usah bi... “ tolak syifa lembut. “aku mau naik
mobil aja sekalian biar bisa olahraga, he..he..”
Syifa
yang mengenakan hijab panjang berwarna hitam itu pun pamit meninggalkan sang
ayah.
“tolong bilang sama umi ya bi.. aku pergi dulu
mengikuti kajian”
“iya. hati-hati lho.. kalo sudah selesai sms abi saja biar bisa abi jemput.”
“iya..” jawab syifa. Pergi meninggalkan ayahnya..
Bersambung...
Bagikan
Dalam dekapan Cinta
4/
5
Oleh
Harun Tsaqif