Tiada yang patut untuk diperbincangkan tentang jati
diri seorang jomblo. Ia hanya manusia yang kebetulan belum mempunyai pendamping
hidup. Ianya seperti tanah tandus yang merindukan hujan, seperti kuncup yang
merindukan sinar agar merekah indah. eaaa..
Kesendirian,
bukanlah sesuatu yang harus disedihkan. Karena disini kita belajar tentang arti
ketegaran, layaknya batu karang yang tetap berdiri kokoh meski deru ombak menerpa.
Meski demikian, menjomblo harus mempunyai tujuan. Tujuan untuk menempa diri
dengan ilmu agar kelak tiada canggung saat kita memimpin bahtera indah, rumah
tangga.
Memilih
menjadi jomblo adalah lebih baik ketimbang harus mencinta sesuatu yang tiada
halal bagi diri. Patut untuk dibicarakan jika jomblo sebagai universitas
kemandirian, agar nanti diri tiada resah saat ujian menyentuh bahtera indah. Para
jomblowers, menjadi jomblo bukanlah aib yang harus ditutupi, ianya bukan cerita
yang berisi kesedihan, duka ataupun lara. Melainkan jomblo adalah sebuah
kebahagian yang harus terbagi, karena seorang jomblo begitu berarti. Masa sih?
Jomblowers yang semoga dicintai
Allah, perlu kita ketahui berstatus jomblo bukanlah nasib yang perlu disesali
bukan pula kesedihan yang harus diratapi dengan buliran air mata. Status jomblo
hanya diperuntukan bagi kita kuat hatinya saja, bukan mereka yang hatinya lemah
dan rapuh seperti kapas.
Status jomblo hanya disandingkan
bagi mereka yang benar – benar mencari cinta. Bagi mereka yang ingin merasakan
dan mereguknya hingga dalam. Ianya merupakan pilihan amat bijaksana dan
merupakan tindakan lelaki sejati.
Status
jomblo merupakan pilihan bijaksana
Bagi ia yang menginginkan cinta
Jomblowers, sekali lagi saya
tekankan, menjadi jomblo merupakan pilihan bukan nasib. Pilihan ini kita ambil untuk
merasakan cinta yang sesungguhnya, pernikahan.
Lalu adakah alasan untuk kita
meratapi kesendirian ini?
Keep Fighting Jomblowers !!
Bagikan
Jomblo, pilihan atau nasib ?
4/
5
Oleh
Harun Tsaqif