Rabu, 07 Desember 2016

Semua Karena Dakwah

Semua+Karena+Dakwah

Saya ingin sedikit bercerita tentang masa lalu saya saat SMA. Ini perihal Dakwah yang mengubah segalanya.

Dahulu, saya adalah anak SMA yang cukup nakal. Game, Merokok, kumpul bareng teman sampai larut malam biasa saya lakukan. Waktu itu saya adalah pribadi yang masa bodo dengan sekitar, tidak memedulikan apa yang terjadi dalam lingkungan ataupun pergaulan yang tidak sehat, bisa dibilang kala itu saya Pragmatis cenderung Hedonis, lebih suka menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, mengikuti gaya fashion kekinian walaupun sebenarnya uang jajan pas-pasan bahkan kurang. .com/img/proxy/

Ya, begitulah, saya tidak pernah berfikir kalau harus jadi orang pintar, yang terpenting kebutuhan saya terpenuhi. Pun, sepertinya niat ingin kuliah hanya terpintas saja di benak, fikiran saya saat itu, kerja kerja dan kerja. Oia, sama seneng-seneng bareng temen dan ngabisin uang.

            Meskipun begitu, saya tidak pernah memakai uang orangtua untuk kebutuhan saya. Sejak SMP saya telah mandiri mengais rezeki sendiri walaupun sekali-kali masih minta juga ke orangtua. Inget, hanya sekali-kali. Kalau ditanya tentang kerjaannya apa waktu SMP sampai SMA, wah, macam-macam deh. Kalau suka ingat hal itu kadang sedih sendiri, perjuangan hidup yang sangat luar biasa yang membuat saya bisa bertahan sampai sekarang. Jadi curhat ya? Haha.. .com/img/proxy/

            Pun sebenarnya, tempat tinggal saya adalah lingkungan yang mungkin biasa dikatakan oranglain kurang baik. Tetapi Alhamdulillah,  saya dan keluarga baik-baik saja. Hihi… Oia, waktu itu saya juga sedang keranjingan main game online perang yang sedang booming. Kalau sudah ngekill ada suara khas yang muncul; Chainkiller! Headshot! Chainstopers! Bagi yang suka main pasti tahu banget sound khas game ini.

            Nah, sudah habis separuh halaman nih, kalau tulisan ini semuanya kisah saya akan dibutuhkan banyak lembaran. Kita singkat saja ya… hehe. 

            Kita lompat saat saya SMA kelas 2, masih lucu-lucunya. Kalau kata teman, rambut saya saat itu masih bergaya Polem (red: Poni Lempar) khas anak-anak korea, dan rambut belakang berdiri seperti film kartun Captain Tsubasa. Ah, pokonya jangan coba dicari deh fotonya… .com/img/proxy/

            Singkat cerita, ada sekelompok abang-abang yang datang ke sekolahan saya untuk mengadakan Pelatihan Kepemimpinan. Kami diberikan materi ke islaman tentang pentingnya tujuan hidup, dunia ini hanya sementara, pilih istimewa atau biasa, dan materi yang membuat hati saya terhentak sadar adalah ketika abang-abang itu menyampaikan hidup dunia ini hanya 2 menit 1 detik.

Coba bayangin, saat itu saya masih berumur 17 tahun, diberikan materi yang membuat orang kembali berfikir. Jika hidup di dunia hanya 2 menit 1 detik, berarti sebentar banget dong hidup ini. Lalu abang-abang itu menyampaikan kenapa bisa dapat hasil 2 menit 1 detik, itu semua karena kita akan menunggu lama di alam menuju akhirat. Sontak, saya beristigfar berkali-kali, mengingat-ingat lagi perbuatan dosa apa saja yang pernah saya lakukan. Dari sana hidayah untuk mendekatkan diri pada Allah datang. Allah menggerakkan hati saya untuk sholat lima waktu meski kadang alpa. Saya tetap berusaha untuk berubah menjadi pemuda yang lebih baik lagi terutama dalam segi ibadah.

Selang waktu berlalu, keistiqomahan saya untuk hijrah goyah, yang tadinya semangat beribadah kini menjadi ogah. Ternyata efek materi itu hanya bertahan seminggu. Ketika semangat  berubah  hampir padam, abang-abang yang menyampaikan materi itu menghubungi saya untuk kumpul-kumpul bersama teman-teman yang ikut pelatihan kemarin. Belakangan akhirnya saya tahu bahwa kami berkumpul untuk mengkaji islam.

Alhamdulillah, Allah menuntun hambaNya yang berkomitmen hijrah dengan cara mengumpulkan saya dan teman-teman lainnya seminggu sekali. Dari perkumpulan inilah -yang belakangan saya baru tahu lagi kalau ini disebut Halqah-, saya istiqomah bersama teman-teman mengkaji islam dan hal itu merubah pandangan hidup saya yang tadinya masa bodo menjadi peduli, acuh menjadi sayang, benci jadi cinta dan perbandingam baik semisalnya.

Dari Halqah saya menyadari pentingnya tujuan dalam hidup, darisana pula saya memahami pentingnya berdakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, serta karena halqah pula saya menemukan jatidiri.  

Ini semua karena dakwah. Saya yang bisa menuliskan kisah inipun lantaran dakwah seseorang. Jujur, waktu SMA saya tidak suka membaca, tetapi karena ikut Halqah saya malah ketagihan membaca dan itu membuat saya lebih baik ketimbang dahulu. Karena dakwah pula saya meninggalkan kebiasaan buruk membuang-buang waktu serta berhenti menjadi pemuda alay.

Betapa pentingnya dakwah, ia memahami seseorang yang belum mengetahui. Betapa mulianya berdakwah, ia menunjukkan bahkan menuntun menuju ketaatan. Pun tersebab dakwah, kita dapat memisahkan antara yang haq dan juga batil, memenuhi isi bumi dengan kalimat la ilaha ilallah, serta menyingsingkan jahiliyah dari kehidupan.

Dakwah, adalah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh Nabi, sahabatnya, serta orang-orang shalih terdahulu. Ini adalah pekerjaan mulia yang hanya sedikit orang yang mau melakukannya.

Mengapa sedikit? .com/img/proxy/

Karena memang hanya orang-orang pilihan yang menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan. Sedikit orang yang mau mengorbankan waktunya untuk menyampaikan kebaikan. Saya bisa berubah seperti ini; dari pemuda yang masa bodo terhadap agama menjadi peduli juga karena dakwah.  Maka betapa pekerjaan mulia dakwah ini.

 Dan perlu kita ingat, dakwah bukan hanya tugas Pak Kyai, Ustadz, Habib tapi tugas kita semua yang mengaku muslim, sebab kewajiban menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah kewajiban umat islam.

Ah… betapa banyak yang ingin saya tuliskan tentang “Karena Dakwah”, semoga tulisan ini bisa menjadi pembangkit semangat untuk saya. Dan moga kita bisa mengambil hikmah dari tulisan yang belum sempurna ini.


Terimakasih karena telah merampungkan bacaannya. .com/img/proxy/

Bagikan

Tulisan Lainnya

Semua Karena Dakwah
4/ 5
Oleh