Saya ingin sedikit bercerita tentang masa lalu saya saat SMA.
Ini perihal Dakwah yang mengubah segalanya.
Dahulu, saya adalah anak SMA yang
cukup nakal. Game, Merokok, kumpul bareng teman sampai larut malam biasa saya
lakukan. Waktu itu saya adalah pribadi yang masa bodo dengan sekitar, tidak
memedulikan apa yang terjadi dalam lingkungan ataupun pergaulan yang tidak
sehat, bisa dibilang kala itu saya Pragmatis cenderung Hedonis,
lebih suka menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, mengikuti gaya fashion
kekinian walaupun sebenarnya uang jajan pas-pasan bahkan kurang. 
Ya, begitulah, saya tidak pernah
berfikir kalau harus jadi orang pintar, yang terpenting kebutuhan saya
terpenuhi. Pun, sepertinya niat ingin kuliah hanya terpintas saja di benak,
fikiran saya saat itu, kerja kerja dan kerja. Oia, sama seneng-seneng bareng
temen dan ngabisin uang.
Meskipun begitu,
saya tidak pernah memakai uang orangtua untuk kebutuhan saya. Sejak SMP saya
telah mandiri mengais rezeki sendiri walaupun sekali-kali masih minta juga ke
orangtua. Inget, hanya sekali-kali. Kalau ditanya tentang kerjaannya apa
waktu SMP sampai SMA, wah, macam-macam deh. Kalau suka ingat hal itu kadang
sedih sendiri, perjuangan hidup yang sangat luar biasa yang membuat saya bisa
bertahan sampai sekarang. Jadi curhat ya? Haha.. 
Pun sebenarnya,
tempat tinggal saya adalah lingkungan yang mungkin biasa dikatakan oranglain
kurang baik. Tetapi Alhamdulillah, saya
dan keluarga baik-baik saja. Hihi… Oia, waktu itu saya juga sedang keranjingan
main game online perang yang sedang booming. Kalau sudah ngekill ada
suara khas yang muncul; Chainkiller! Headshot! Chainstopers! Bagi yang
suka main pasti tahu banget sound khas game ini.
Nah, sudah
habis separuh halaman nih, kalau tulisan ini semuanya kisah saya akan
dibutuhkan banyak lembaran. Kita singkat saja ya… hehe.
Kita lompat
saat saya SMA kelas 2, masih lucu-lucunya. Kalau kata teman, rambut saya saat itu
masih bergaya Polem (red: Poni Lempar) khas anak-anak korea, dan rambut
belakang berdiri seperti film kartun Captain Tsubasa. Ah, pokonya jangan coba
dicari deh fotonya… 
Singkat
cerita, ada sekelompok abang-abang yang datang ke sekolahan saya untuk
mengadakan Pelatihan Kepemimpinan. Kami diberikan materi ke islaman tentang
pentingnya tujuan hidup, dunia ini hanya sementara, pilih istimewa atau biasa,
dan materi yang membuat hati saya terhentak sadar adalah ketika abang-abang itu
menyampaikan hidup dunia ini hanya 2 menit 1 detik.
Coba bayangin, saat itu saya masih
berumur 17 tahun, diberikan materi yang membuat orang kembali berfikir. Jika
hidup di dunia hanya 2 menit 1 detik, berarti sebentar banget dong hidup
ini. Lalu abang-abang itu menyampaikan kenapa bisa dapat hasil 2 menit 1 detik,
itu semua karena kita akan menunggu lama di alam menuju akhirat. Sontak, saya
beristigfar berkali-kali, mengingat-ingat lagi perbuatan dosa apa saja yang
pernah saya lakukan. Dari sana hidayah untuk mendekatkan diri pada Allah datang.
Allah menggerakkan hati saya untuk sholat lima waktu meski kadang alpa. Saya
tetap berusaha untuk berubah menjadi pemuda yang lebih baik lagi terutama dalam
segi ibadah.
Selang waktu berlalu, keistiqomahan
saya untuk hijrah goyah, yang tadinya semangat beribadah kini menjadi ogah.
Ternyata efek materi itu hanya bertahan seminggu. Ketika semangat berubah hampir padam, abang-abang yang menyampaikan
materi itu menghubungi saya untuk kumpul-kumpul bersama teman-teman yang ikut
pelatihan kemarin. Belakangan akhirnya saya tahu bahwa kami berkumpul untuk
mengkaji islam.
Alhamdulillah, Allah menuntun
hambaNya yang berkomitmen hijrah dengan cara mengumpulkan saya dan teman-teman
lainnya seminggu sekali. Dari perkumpulan inilah -yang belakangan saya baru
tahu lagi kalau ini disebut Halqah-, saya istiqomah bersama
teman-teman mengkaji islam dan hal itu merubah pandangan hidup saya yang tadinya
masa bodo menjadi peduli, acuh menjadi sayang, benci jadi cinta dan
perbandingam baik semisalnya.
Dari Halqah saya menyadari pentingnya
tujuan dalam hidup, darisana pula saya memahami pentingnya berdakwah, amar
ma’ruf nahi mungkar, serta karena halqah pula saya menemukan jatidiri.
Ini semua karena dakwah. Saya yang
bisa menuliskan kisah inipun lantaran dakwah seseorang. Jujur, waktu SMA saya
tidak suka membaca, tetapi karena ikut Halqah saya malah ketagihan membaca dan
itu membuat saya lebih baik ketimbang dahulu. Karena dakwah pula saya
meninggalkan kebiasaan buruk membuang-buang waktu serta berhenti menjadi pemuda
alay.
Betapa pentingnya dakwah, ia memahami
seseorang yang belum mengetahui. Betapa mulianya berdakwah, ia menunjukkan
bahkan menuntun menuju ketaatan. Pun tersebab dakwah, kita dapat memisahkan
antara yang haq dan juga batil, memenuhi isi bumi dengan kalimat la ilaha
ilallah, serta menyingsingkan jahiliyah dari kehidupan.
Dakwah, adalah pekerjaan yang biasa dilakukan
oleh Nabi, sahabatnya, serta orang-orang shalih terdahulu. Ini adalah pekerjaan
mulia yang hanya sedikit orang yang mau melakukannya.
Mengapa sedikit? 
Karena memang hanya orang-orang pilihan
yang menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan. Sedikit orang yang mau
mengorbankan waktunya untuk menyampaikan kebaikan. Saya bisa berubah seperti
ini; dari pemuda yang masa bodo terhadap agama menjadi peduli juga karena
dakwah. Maka betapa pekerjaan mulia
dakwah ini.
Dan perlu kita ingat, dakwah bukan hanya tugas
Pak Kyai, Ustadz, Habib tapi tugas kita semua yang mengaku muslim, sebab
kewajiban menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah kewajiban umat
islam.
Ah… betapa banyak yang ingin saya
tuliskan tentang “Karena Dakwah”, semoga tulisan ini bisa menjadi pembangkit
semangat untuk saya. Dan moga kita bisa mengambil hikmah dari tulisan yang
belum sempurna ini.
Terimakasih karena telah merampungkan
bacaannya. 
Bagikan
Semua Karena Dakwah
4/
5
Oleh
Harun Tsaqif