Suatu hari, pada masa Rasulallah shalallahu’alaihi wa salam,
tidak sedikit diantara mereka yang berlari-lari keluar rumah, ia meluapkan
kegembiraan yang amat luar biasa. Bukan, bukan lantaran ia mendapatkan harta
yang berlimpah, tapi karena ia telah memeluk islam.
“Isyhadu bi
ana Muslimun!” begitulah teriaknya.
Kabahagian
itu hadir sebab telah memeluk islam. Sebuah kesenangan yang lebih baik dari
dunia dan segala isinya.
Lalu apakah saat ini kita sesenang mereka, yang dengan bangga
mengatakan “Saksikanlah aku seorang muslim!” tidak bisa dipungkiri bahwa kita
tengah berada di akhir zaman, saat dimana seorang muslim tidak lagi bangga
dengan keislamannya, tidak lagi merasa cemburu atau bahkan malu saat
bersentuhan dengan maksiat.
Kita berada pada masa; dimana menggenggam islam dicap sebagai
pelaku teror, menginginkan aturan Allah sebagai pemberontak, menyuarakan
kebenaran dituduh pendusta, membela islam dianggap tak mengerti, mengajak untuk
tidak mengatakan hal yang bertentangan dengan akidah dibilang intoleransi.
Ada hal yang mesti kita pupuk, keberanian. Ada hal yang mesti
kita genggam erat, keimanan. Bahwasannya, apapun yang mereka katakan kita harus
tetap bangga dengan islam, sebab ia adalah bukti keimanan. Kelak, ia akan
menjadi saksi dihadapan Allah karena kegembiraan kita menjadi seorang muslim.
Tiada hal memalukan, kecuali saat seorang muslim tidak lagi
bangga dengan islamnya. Tidak lagi suka dengan aturanNya. Maka, tetaplah bangga
menjadi seorang muslim, melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala
larangannya.
Bagikan
Bangga dengan Islam
4/
5
Oleh
Harun Tsaqif