Kutulis ini untuk mengingat sejarah
agar tidak pernah dilupa dan selalu di ingat dalam hati setiap mukmin khususnya
bagiku dan anak-anaku kelak. Tepat 4 November 2016, hari besar umat islam,
berkumpul berjuta kaum muslimin di pusat ibu kota Jakarta, terletak dibeberapa
titik; patung kuda, istana negara, masjid istiqlal dan tempat lain yang menjadi
perhatian. Orangtua, pemuda, anak-anak, termasuk muslimah di dalamnya turut
serta memadati ruas jalan yang menjadi titik central Jakarta.
Bukan tanpa alasan mengapa jutaan umat islam membanjiri
jalan, hal ini disebabkan pemimpin wilayah Jakarta tersebut telah melukai hati
umat islam dengan perkataanya yang nista, ia telah mencederai nurani masyarakat
mayoritas muslim Indonesia tersebab ucapannya yang membuat sesak dada pengiman
Allah serta Kitabullah; “dibohongi pakai surat al maidah ayat 51”
Bagaimana mungkin seorang gubernur yang mengepalai daerah
mayoritas muslim mengatakan hal demikian? Iya, mungkin saja sebab ia berasal
dari golongan nasrani pemeluk katolik. Kelompok yang telah Allah sebut menyimpan
kebencian amat besar dihatinya pada kaum muslim. Telah lama ia terpendam, lalu
muncul kesempatan untuk mendobrak paksa fikiran muslim dengan perkataan
nistanya.
Basuki Tjaja
Purnama atau Ahok sapaannya, dikenal oleh
sebagian besar masyarakat Jakarta dengan perkataan kasar, serta arogansinya
terhadap masyarakat lemah. Maka bak gayung bersambut, ketika perkataan hina itu
telah nyata hingga menghujam hati setiap muslim, hampir seluruh umat islam
Indonesia memenuhi pusat ibu kota guna menuntut gubernur pembuat sakit hati itu
dikerangkeng atas penistaan terhadap agama islam.
Namun kisah
aksi 4 November 2016 itu belum membuahkan hasil, ia masih bebas berkampanye dan
berharap dapat terpilih kembali di Pilkada 2017.
Nak, mungkin
kamu akan bertanya, mengapa penista ini tidak kunjung ditangkap sedang bukti
sudah cukup kuat. Hal ini dikarenakan, ia seolah dilindungi oleh kekuatan besar
semacam pemangku kuasa dan pemilik usaha. Inilah yang menyebabkan kasusnya
sukar untuk di selesaikan. Dan lebih menyakitkan ketimbang hal itu adalah, ada
sebagian kaum muslim yang membelanya. Mereka inilah yang disebutkan Allah
sebagai orang-orang munafik, yang menyembunyikan kebenaran demi pundi-pundi
rupiah dan juga jabatan.
وَقَدْ
نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ
بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي
حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ
الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (١٤٠
140. Dan sungguh, Allah telah menurunkan
ketentuan kepadamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar
ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka
janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang
lain. Karena (kalau kamu tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa
dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik
dan orang-orang kafir di neraka Jahanam.
Nak,
sebagai muslim kita mesti menanamkan ghirah dalam-dalam pada jiwa, agar ia
menumbuhkan semangat untuk membela islam. Jauhi sifat-sifat orang munafik agar
selamat di akhirat. Aksi 4 November 2016 mengingatkan kita hikayat Burung pipit
dan Cicak.
Dahulu, saat Nabi Ibrahim dihukum bakar oleh Raja Namrut,
datanglah burung pipit yang bolak balik mengambil air dan meneteskan air itu
diatas api yang membakar Nabi Ibrahim,
Cicak yang melihatnya tertawa dan berkata;
Cicak yang melihatnya tertawa dan berkata;
“Hai pipit” katanya, “amat bodoh yang kau lakukan itu, paruhmu
yang kecil hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air saja, mana mungkin bisa
memadamkan api itu”
Burung pipitpun menjawab cibiran si cicak dengan lembut tapi
mengena dihati kita yang hendak mencermati.
“Wahai cicak, memang tak mungkin aku bisa memadamkan api yang besar itu, tapi aku tak mau jika Allah melihatku diam saja saat sesuatu yang Allah cintai di zhalimi, Allah tak akan melihat akhirnya, apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak” ucapnya menasihati, “tetapi” lanjutnya, “Allah akan melihat dimana aku berpihak.”
Mendengar pernyataan yang terucap dari burung kecil itu,
cicakpun tertawa sembari menjulurkan lidahnya, berusaha meniup api yang membakar Nabi Ibrahim
as.
Memang, tiupan cicak tak ada artinya, tidak menambah besar
api yang membakar Nabi Ibrahim, namun Allah
melihat dimana ia berpihak. Hikayat ini,
terefleksikan sekarang saat Al quran dan islam dihinakan seorang kafir. Maka
posisikan dimana tempatmu berada anakku, menjadi pembela Islam dan mulia
karenanya, atau pelindung bagi orang yang telah menghinakan Al quran, pun kita
akan hina karena melindunginya.
Nak, jangan sampai ghirah-mu termakan oleh ilusi duniawi yang
sementara ini, ingatlah tujuanmu diciptakan; untuk taat dan beribadah pada
Allah. Jangan pula membangkang serta menutup-nutupi kebenaran hanya untuk
mencari kekayaan, pujian ataupun hasrat lainnya yang bisa membuatmu celaka.
Bagikan
Ghirah dan Sejarah
4/
5
Oleh
Harun Tsaqif