Apa
yang telah kita lakukan hari ini. Kesibukan dunia begitu banyak menghampiri,
tanpa kenal lelah kita mencoba mengejarnya. Mengejarnya dan terus mengejarnya,
hingga akhirnyapun kita mendapatkan apa yang kita mau. Dunia ini begitu indah,
sayang bila harus ditinggalkan walau sedetik saja.
Kita
berusaha untuk sukses di dunia ini, mengumpulkan begitu banyak harta dan
membeli apa yang kita mau; Tanah, Rumah, Mobil, Motor, Pakaian mewah, hingga Handphone
yang harganya jutaan rupiah.
Duhai...
betapa rakusnya diri yang terus saja terlena akan kehidupan dunia yang
sementara ini. Begitu bodohnnya diri ini, bila terus saja mencari harta yang
tidak akan dibawa mati.
Allah....
Sudahkah
kita bersyukur kepadaNya yang telah memberikan kehidupan ini. Sudahkah kita
berterimakasih atas apa yang telah Allah berikan pada kita; hambanya yang lalai
dan sering alfa. Pernahkah kita, menyisihkan waktu sebentar saja untuk mengucap
Alhamdulillah atas rahmatNya yang begitu luas, padahal kita sering sekali
melupakanNya, dan bahkan tidak perduli padaNya. Allah....
Keindahan
dunia, sepertinya telah membuat kita melupakan negeri Akhirat dan membuat kita
lupa akan bersyukur kepada Allah. Keindahan dunia, sepertinya telah berhasil
membuat kita lupa mengingat Mati.
Ya,
mati. Sebuah proses yang pasti kita temui. Kematian yang akan memisahkan diri
kita dengan; keluarga, sahabat, istri dan anak yang sangat kita cintai. Di
ujung sana, kematian menunggu kita dengan angkuh. Tak memandang usia, jabatan,
banyaknya harta, kematian pasti menjemput kita.
Dan
pertanyaannya adalah, sudahkah kita siap menghadapi kematian. Sudahkah bekal
kita cukup untuk perjalanan menuju dunia abadi --akhirat—. Sudah dapat
dibanggakan-kah amal kita di hadapan Allah sedang kita masih bergelimang dosa.
Allah....
Namun
beruntunglah kita sebagai seorang hamba, Allah selalu menyediakan hari baru
untuk kita memperbaiki diri. Allah selalu menyediakan hari esok untuk kita
memperbaiki iman yang telah lama kering tak disirami air ketaat-an.
Sebuah
kesenangan, apabila kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Sebuah ketenangan bila kita tidak terlalu rakus dengan harta. Dan sebuah
kebahagian bila kita mempersiapkan diri untuk ajal yang akan tiba.
“Allah...
maafkanlah hamba yang terlalu serakah akan harta. Aku sampai lupa untuk
bersyukur padaMu, padahal Engkaulah pemilik dari semua kakayaan yang ada di
dunia ini. Engkaulah pemilik kehidupanku dan seluruh manusia. Namun sepertinya
aku terlalu asyik pada dunia dan melupakan tempat kemabaliku yang kekal di akhirat.
Allah... bila ada waktu untukku esok hari, izinkanlah
hamba untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi atas
izinMu.
Allah...
bila masih ada waktu untukku, izinkanlah hamba menjadi pribadi yang shaleh dan
taat kepadaMu. Berikanlah rahmat dan karuniaMu agar hamba selalu mengingat dan
bersyukur padaMu.”
Allah...
inilah secuil Muhasabahku...
@Di bumi Allah penuh berkah.
Bagikan
Allah, inilah secuil Muhasabahku.
4/
5
Oleh
Harun Tsaqif